Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Rektor Unikama Soroti Peran AI dalam Revolusi Pembelajaran Fisika
Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni
06 - Jun - 2026, 14:13
Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof Dr Sudi Dul Aji resmi menyandang gelar guru besar (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)
JATIMTIMES – Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Dr. Sudi Dul Aji resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Teknologi dan Inovasi Pembelajaran Fisika, Sabtu, (6/6/2026) di Aula Sarwakirti Unikama.
Dalam pidato pengukuhannya, akademisi yang juga memimpin Unikama itu menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian dari realitas pendidikan modern yang tidak dapat dihindari, sekaligus membuka peluang besar untuk mentransformasi pembelajaran fisika di Indonesia.
Menurutnya, dunia pendidikan saat ini berada di tengah perubahan besar akibat perkembangan teknologi AI. Berbagai platform pembelajaran adaptif, tutor cerdas, hingga sistem evaluasi otomatis telah mulai digunakan dalam proses belajar mengajar. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut masih menghadapi tantangan karena banyak pendidik belum memiliki pengetahuan, kepercayaan diri, dan strategi pedagogis yang memadai untuk mengintegrasikan AI secara efektif dalam pembelajaran.
“Tanpa pemahaman yang cukup mengenai potensi pedagogis AI, pendidik akan tetap ragu menggunakannya sehingga peluang transformasi pendidikan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Sudi Dul Aji dalam orasi ilmiahnya.
Ia menjelaskan bahwa pembelajaran fisika merupakan salah satu bidang yang paling membutuhkan dukungan inovasi teknologi. Banyak konsep fisika bersifat abstrak dan sulit dipahami apabila hanya dijelaskan secara teoritis. Materi seperti gelombang elektromagnetik, medan listrik, relativitas, hingga mekanika kuantum membutuhkan visualisasi yang kuat agar lebih mudah dipahami peserta didik.
Dalam konteks tersebut, AI dinilai mampu menghadirkan berbagai solusi pembelajaran. Teknologi ini dapat digunakan untuk menciptakan simulasi interaktif, eksperimen virtual, pembelajaran adaptif, hingga sistem evaluasi otomatis yang mampu menyesuaikan kebutuhan setiap siswa. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran fisika tidak hanya menjadi lebih menarik, tetapi juga lebih kontekstual dan personal.
Sudi mencontohkan simulasi gerak parabola berbasis AI yang memungkinkan siswa melihat perubahan lintasan secara langsung ketika sudut maupun kecepatan diubah. Teknologi serupa juga dapat membantu memvisualisasikan berbagai fenomena fisika yang selama ini sulit diamati secara langsung di ruang kelas.
Selain meningkatkan pemahaman konsep abstrak, AI juga dinilai mampu mempersonalisasi pembelajaran. Sistem dapat menganalisis kemampuan belajar masing-masing siswa, memberikan materi tambahan bagi yang mengalami kesulitan, sekaligus menyediakan tantangan lebih tinggi bagi peserta didik yang telah menguasai materi.
“Pembelajaran menjadi lebih adaptif, kesenjangan pemahaman dapat ditekan, dan guru memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan belajar siswa,” katanya.
Dalam bidang evaluasi, AI dapat membantu guru menganalisis hasil belajar secara otomatis, mengidentifikasi kelemahan konsep yang dialami siswa, serta memberikan rekomendasi tindak lanjut pembelajaran. Jika sebagian besar siswa gagal memahami konsep hukum Newton, misalnya, sistem dapat mendeteksi kebutuhan penguatan materi tersebut secara lebih cepat dan akurat.
Pemanfaatan AI juga membuka peluang berkembangnya eksperimen virtual. Menurut Sudi, tidak semua sekolah memiliki laboratorium fisika yang lengkap. Melalui teknologi AI, berbagai percobaan dapat dilakukan secara digital dengan biaya lebih murah, risiko lebih rendah, dan akses yang lebih fleksibel.
Lebih jauh, penggunaan AI dinilai dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Teknologi tersebut memungkinkan penyajian soal berbasis kasus nyata yang menuntut analisis mendalam. Siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga memahami penerapannya dalam berbagai bidang teknologi modern seperti robotika, mobil otonom, sistem navigasi cerdas, dan Internet of Things (IoT).
Dalam pidatonya, Sudi juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi guru melalui kerangka AI-Specific Technological Pedagogical Content Knowledge atau AI-TPACK. Model ini merupakan pengembangan dari konsep TPACK yang diperkenalkan oleh Mishra dan Koehler pada 2006.
Jika TPACK mengintegrasikan pengetahuan konten, pedagogi, dan teknologi, maka AI-TPACK memperluas cakupan tersebut dengan kemampuan memahami, memilih, serta mengintegrasikan teknologi berbasis AI secara tepat dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, guru fisika masa kini tidak cukup hanya memahami materi dan teknologi. Mereka juga harus mampu menggunakan AI untuk simulasi eksperimen, mengembangkan pembelajaran adaptif, memanfaatkan chatbot sebagai tutor belajar, melakukan evaluasi otomatis, hingga menganalisis perkembangan peserta didik berbasis data.
Temuan tersebut diperkuat melalui penelitian berskala nasional yang dilakukan Sudi terhadap 725 guru dari berbagai provinsi di Indonesia. Survei tersebut menggunakan instrumen AI-Specific TPACK Scale yang terdiri atas 29 item dengan tingkat reliabilitas sangat tinggi, ditunjukkan oleh nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,94. Instrumen sikap guru terhadap AI yang terdiri atas 12 item juga menunjukkan reliabilitas sebesar 0,92.
Dari total responden, sebanyak 76,55 persen merupakan guru perempuan dan 23,45 persen laki-laki. Mayoritas berusia 25 hingga 34 tahun. Sebanyak 72 persen mengajar di tingkat pendidikan dasar, 15,31 persen di jenjang SMP, dan 12,69 persen di tingkat SMA.
Hasil penelitian menunjukkan guru Indonesia memiliki kemampuan yang cukup baik dalam berbagai komponen AI-Specific TPACK. Pengetahuan konten atau Content Knowledge mencatat skor tertinggi dengan rata-rata 4,14. Disusul Pedagogical Knowledge sebesar 4,03 dan Pedagogical Content Knowledge sebesar 4,01.
Namun demikian, skor terendah ditemukan pada komponen TPACK terintegrasi dengan rata-rata 3,80. Temuan ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kemampuan menggunakan teknologi dengan kemampuan mengintegrasikan AI secara komprehensif ke dalam strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa.
“Guru mampu mengoperasikan teknologi AI, tetapi masih menghadapi tantangan dalam menyelaraskannya dengan tujuan pembelajaran dan strategi instruksional yang tepat,” ungkapnya.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sikap guru terhadap AI cenderung positif. Niat mengadopsi AI dalam pembelajaran memperoleh skor rata-rata 3,92, sedangkan persepsi manfaat AI mencapai 3,90. Kendati demikian, masih terdapat kekhawatiran terkait aspek etika, privasi data, serta risiko ketergantungan terhadap teknologi otomatis.
Temuan lain yang menarik adalah pengalaman penggunaan teknologi digital sebelumnya menjadi faktor penting dalam membentuk kesiapan guru menghadapi AI. Guru yang telah terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran menunjukkan kompetensi dan sikap yang lebih baik dibandingkan mereka yang jarang memanfaatkan teknologi.
Selain itu, penelitian ini juga mematahkan anggapan bahwa usia menjadi hambatan dalam adopsi AI. Justru guru senior dan berpengalaman menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap manfaat AI serta memiliki niat adopsi yang lebih kuat.
Menurut Sudi, hal tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pedagogis yang panjang dapat menjadi modal penting dalam memanfaatkan teknologi secara lebih bijak dan efektif.
Berdasarkan hasil riset tersebut, ia merekomendasikan agar pelatihan guru tidak lagi berfokus semata pada pengoperasian perangkat teknologi. Penguatan kemampuan pedagogis dalam mengintegrasikan AI harus menjadi prioritas utama. Selain itu, lembaga pendidikan perlu menyusun pedoman etika penggunaan AI yang jelas, terutama terkait perlindungan data dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Ia juga menilai pengalaman para pendidik senior perlu dimanfaatkan melalui program mentoring untuk mempercepat transformasi pendidikan berbasis AI di Indonesia.
Menutup orasi ilmiahnya, Guru Besar bidang Teknologi dan Inovasi Pembelajaran Fisika itu menegaskan bahwa kecerdasan buatan pada hakikatnya hanyalah alat bantu. Peran guru tetap tidak tergantikan dalam membentuk karakter, integritas, dan semangat ilmiah peserta didik.
“Dalam pendidikan fisika, AI dapat membantu menjelaskan hukum-hukum alam semesta secara lebih visual. Namun hanya guru sejati yang mampu menginspirasi siswa untuk mencari kebenaran ilmiah dengan integritas,” pungkasnya.
Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :
Silahkan tekan Install. Jika tidak muncul pesan pop up, artinya aplikasi Malang Times News sudah terinstall pada perangkat anda. Silahkan buka di menu utama hp atau desktop anda.
Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Rektor Unikama Soroti Peran AI dalam Revolusi Pembelajaran Fisika - Malang Times
Deprecated: Constant E_STRICT is deprecated since 8.4, the error level was removed in /www/wwwroot/daerah3.jatimtimes.my.id/system/core/Exceptions.php on line 76
A PHP Error was encountered
Severity: 8192
Message: Creation of dynamic property CI_URI::$config is deprecated