Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Kapan Musim Kemarau 2026 di Jawa Timur? BMKG Beberkan Prediksinya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

05 - Mar - 2026, 13:19

Placeholder
Ilustrasi kekeringan. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun 2026 di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, berpotensi datang lebih awal dibandingkan pola normal. Pergeseran waktu tersebut dipengaruhi dinamika iklim global setelah fenomena La Niña lemah yang terjadi sebelumnya mulai berakhir.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan kondisi iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO saat ini berada di kisaran minus 0,28. Angka tersebut masih masuk kategori netral dan diperkirakan bertahan hingga sekitar Juni 2026.

Baca Juga : SBY Ingatkan Perang AS Israel vs Iran Bisa Meluas, Berpotensi Picu Konflik Kawasan hingga Krisis Global

Meski begitu, ia mengingatkan adanya peluang perubahan kondisi iklim pada paruh kedua tahun ini.

“Mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori lemah sampai moderat pada semester kedua 2026 diperkirakan berada pada kisaran 50 sampai 60 persen, sehingga perlu menjadi perhatian,” jelas Faisal, dilansir dari laman resmi BMKG, Kamis (5/3/2026). 

Selain itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diproyeksikan tetap berada dalam kondisi netral sepanjang tahun 2026.

BMKG menjelaskan bahwa datangnya musim kemarau ditandai dengan perubahan arah angin dari angin baratan atau Monsun Asia menjadi angin timuran yang dikenal sebagai Monsun Australia.

Dalam catatan BMKG, sekitar 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah di Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.

Selanjutnya, wilayah yang memasuki kemarau diprediksi terus bertambah pada bulan-bulan berikutnya.
• Sekitar 184 Zona Musim (26,3 persen) diperkirakan mulai mengalami kemarau pada Mei 2026.
• Kemudian 163 Zona Musim (23,3 persen) menyusul pada Juni 2026.

Jika dibandingkan dengan pola normal, BMKG memproyeksikan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari biasanya.

Rinciannya, sebanyak 325 Zona Musim atau sekitar 46,5 persen diperkirakan mengalami kemarau lebih awal. Sementara 173 Zona Musim (24,7 persen) diperkirakan sesuai dengan waktu normal, dan 72 Zona Musim (10,3 persen) berpotensi mengalami kemarau lebih lambat.

Wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih cepat ini mencakup banyak daerah di Sumatra, Jawa termasuk Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

BMKG juga memprakirakan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026.

Sekitar 429 Zona Musim atau sekitar 61,4 persen wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada bulan tersebut. Sementara wilayah lainnya diperkirakan mengalami puncak kemarau lebih awal atau lebih lambat. 

Sebagian wilayah diproyeksikan mencapai puncak kemarau pada Juli, yakni sekitar 12,6 persen wilayah. Sedangkan sekitar 14,3 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami puncak kemarau pada September.

Baca Juga : Overload, Truk Pengangkut Sekam Oleng hingga Terguling di Jalur Payung Kota Batu

Pada periode Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau diperkirakan cukup luas, termasuk banyak daerah di Kalimantan dan Sulawesi. Bahkan pada September, kondisi kemarau masih diprediksi terasa di beberapa wilayah seperti Sulawesi bagian utara, Sulawesi timur, serta sebagian wilayah Maluku.

Selain datang lebih cepat, BMKG juga memproyeksikan sifat musim kemarau tahun 2026 cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Sebanyak 451 Zona Musim atau sekitar 64,5 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari biasanya. Sementara 245 Zona Musim atau sekitar 35,1 persen diprediksi berada pada kondisi normal.

Hanya sebagian kecil wilayah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih basah dari normal, yakni sekitar 0,4 persen atau hanya tiga Zona Musim. Wilayah tersebut berada di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.

Tak hanya itu, durasi musim kemarau juga diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya di sebagian besar wilayah Indonesia.

BMKG memperkirakan sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia akan mengalami durasi kemarau yang lebih lama dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya.

Melihat prakiraan tersebut, BMKG mengingatkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, terutama di sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam agar tidak terdampak kekeringan yang berkepanjangan. Selain itu, pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering juga dianjurkan.

Pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat, misalnya dengan memaksimalkan tampungan air serta memperbaiki jaringan distribusi air di berbagai daerah.

Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi penurunan kualitas udara serta risiko kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat musim kemarau.


Topik

Peristiwa Prakiraan Cuaca cuaca jawa timur musim kemarau



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni