Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Mengapa Rakaat Salat Tarawih NU dan Muhammadiyah Berbeda? Ini Alasannya 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

17 - Feb - 2026, 18:37

Placeholder
Gambar ilustrasi salat tarawih. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Perbedaan jumlah rakaat salat tarawih antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah kembali jadi perbincangan setiap Ramadan. Sebagian jemaah melaksanakan 23 rakaat, sementara lainnya 11 rakaat. Lalu, apa yang melatarbelakanginya?

Salat tarawih merupakan ibadah sunah yang dikerjakan pada malam hari selama bulan Ramadan. Anjurannya diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.

Baca Juga : Syelhan Nurrahmat Ukir Sejarah, Mahasiswa UIBU Sabet Gelar Juara Asia 2026

"Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengerjakan salat pada malam bulan Ramadan, tetapi tidak mewajibkannya. Rasulullah SAW bersabda, 'Barang siapa yang bangun pada malam bulan Ramadan karena iman dan mengharapkan keridaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu'." (HR Jama'ah)

Dalam praktiknya, terdapat perbedaan jumlah rakaat yang kemudian menjadi tradisi di kalangan NU dan Muhammadiyah.

Mengutip NU Online, kalangan NU umumnya melaksanakan salat tarawih 20 rakaat, lalu ditutup dengan witir 3 rakaat. Totalnya menjadi 23 rakaat.

Penjelasan ini juga dimuat dalam buku Ke-NU-an Ahlussunnah Waljama'ah An-Nahdliyyah terbitan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama DIY. 

Disebutkan, meski Imam Maliki berpendapat tarawih 8 rakaat, mayoritas mazhab seperti Syafi'iyyah, Hanabilah, dan Hanafiyyah berpendapat jumlahnya 20 rakaat.

Landasan yang sering dirujuk adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah RA:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Dari 'Aisyah Ummil Mu'minin RA, sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu nabi) tapi Rasulullah SAW justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, "Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila salat ini diwajibkan pada kalian." Sayyidah 'Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadan'." (HR Bukhari dan Muslim)

Sejak masa awal Islam, jumlah rakaat tarawih memang memunculkan beragam pandangan. Ada yang menjalankan 11, 13, 21, 23, bahkan lebih. Mayoritas ulama kemudian mempraktikkan 20 rakaat dengan dua rakaat satu salam.

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan tarawih 8 rakaat dan ditambah witir 3 rakaat sehingga totalnya 11 rakaat.

Baca Juga : Jam Berapa Hasil Sidang Isbat Puasa 2026 Diumumkan? Berikut Rangkaian Jadwalnya

Mengutip situs resmi Muhammadiyah, Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai riwayat tentang 23 rakaat berkategori dhaif. Karena itu, Muhammadiyah berpegang pada hadis-hadis shahih. Di antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Dari 'Aisyah Ummil Mu'minin RA, sesungguhnya Rasulullah SAW pada suatu malam salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu nabi) tapi Rasulullah SAW justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, "Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila salat ini diwajibkan pada kalian." Sayyidah 'Aisyah berkata, 'Hal itu terjadi pada bulan Ramadan'." (HR Bukhari dan Muslim)

Setidaknya ada dua pola pelaksanaan 11 rakaat yang diriwayatkan, yakni 4-4-3 dan 2-2-2-2-1.

Hadis riwayat Muslim dari Ibnu Abbas juga menjadi rujukan:

"Aku berdiri di samping Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah salar dua rakaat kemudian dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rakaat, selanjutnya Rasulullah SAW salat witir, kemudian Rasulullah SAW tiduran menyamping sampai Bilal menyerukan azan. Maka bangunlah Rasulullah SAW dan sholat dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan salat Subuh."

Itulah perbedaan rakaat salat tarawih antara Muhammadiyah dan NU. Meski berbeda, namun pelaksanaan salat tarawih telah berlangsung lama dan tetap dijalankan masing-masing jemaah hingga kini. Semoga informasi ini bermanfaat. 


Topik

Agama Salat Tarawih rakyat salat tarawih NU Muhammadiyah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni