JATIMTIMES - Umar bin Khattab RA merupakan sahabat yang menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah SAW. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Namun saat masa kepemimpinannya, Umar pernah mengasingkan seorang pemuda yang memiliki paras tampan.
Lalu, mengapa umar mengasingkan pemuda tampan itu ?, mari simak kisahnya.
Baca Juga : Tingkatkan Keandalan Listrik, PLN UP3 Malang Gelar Panjat Tiang Sampai Tuntas
Dalam sebuah Tarikh Madinah karya Ibnu Syabah yang kemudian terangkum dalam buku berjudul Kisah-Kisah Inspiratif Sahabat Nabi oleh Muhammad Nasrulloh, Umar kerap melakukan perjalanan pada malam hari.
Hal ini sudah menjadi kebiasaan Umar untuk melihat situasi wilayahnya dan juga melihat kaum yang berada dibawah kepemimpinannya.
Dan dalam satu perjalanan, Umar terhenti sejenak dan perhatiannya teralihkan oleh sebuah suara perempuan yang tengah melantunkan sebuah syair.
Imam Ad Daaruquthni Rahimahullah dalam kitabnya "Al Mu’talaf wa Al Mukhtalaf" mengatakan : Disebutkan bahwasannya Nasher bin Al Hajjaj adalah Ibnul Hajjaj bin ‘Alath As Sulamy yang pada zaman kehalifahan Umar bin Al Khaththab termasuk salah seorang pemuda yang sangat tampan, yang karena ketampanannyalah seorang wanita Madinah bersenandung.
Dalam lantunan syairnya ia berkata, "Apakah ada jalan menuju minuman keras sehingga aku bisa menenggaknya. Atau ada jalan menuju Nasr bin Hajjaj."
Mendengar syair itu, Umar cukup terkejut. Umar lantas mendatangi orang tersebut. Umar begitu penasaran mengapa perempuan tersebut mengucapkan syair yang yang demikian dan juga memuji Nasr bin Hajjaj.
Dan ketika pagi hari, Umar kemudian memerintahkan Nasr bin Hajjaj. Setelah itu, datanglah sosok Nasr bin Hajjaj. Begitu ia datang barulah Umar mengetahui jika sosok Nasr bin Hajjaj merupakan sosok lelaki gagah yang rupawan dan memiliki paras, rambut dan mata yang mempesona kaum hawa.
Dari sini, Umar memahami bahwa fisik Nasr bin Hajjaj inilah yang membuat banyak perempuan jatih hati padanya. Setelah itu, Umar memerintahkan Nasr bin Hajjaj untuk memotong rambutnya.
Umar ingin agar perhatian kaum hawa dapat teralihkan setelah Nasr memotong rambutnya. Namun, bukannya malah berpaling dari Nasr, justru banyak perempuan yang semakin tergila-gila padanya.
Setelah rambut Nasr dipotong, justru Nasr kian memiliki aura yang semakin menarik perhatian. Kening Nasr nampak terlihat memancarkan sinar bak rembulan yang kian menarik perhatian.
Baca Juga : Sejarah dan Makna di Balik Hari Raya Galungan
Setelah upaya ini gagal, Umar kemudian memerintahkan Nasr untuk menutupi wajahnya saat Nasr berjalan di tengah Kota Madinah. Meski telah memakai penutup wajah, justri kini mata Nasr kian memancarkan cahaya yang menarik perhatian kaum hawa. Banyak kaum hawa di Madinah begitu terpesona dengab sorot mata Nasr yang indah.
Gagal dengan upaya menutup wahah Nasr, Umar kemudian memerintahkan Nasr untuk mengasingkan diri dan memintanya untuk pergi ke Basrah.
"Janganlah engkau tinggal di tempat di mana aku tinggal. Asingkanlah dirimu ke kota Basrah," kata Umar.
Mendengar Umar memintanya untuk mengasingkan diri, membuat Nasr bertanya-tanya. Nasr kemudian berkata, "Wahai Amirul Mukminin, apakah dosaku?"
Umar bin Khattab kemudian berkata, bahwa Nasr tidak mempunyai dosa. Justru Umar lah yang merasa berdosa. "Engkau tidak mempunyai dosa. Yang berdosa adalah aku yang membiarkanmu tinggal di kota hijrah Nabi (Madinah)."
Umar menyampaikan tujuan ia mengasingkan Nasr. Umar mengasingkan Nasr karena hal tersebut merupakan hal yang terbaik baginya dan penduduk Madinah. Umar tak ingin tinbul fitnah dan juga tak ingin kaum hawa di Madinah begitu terbuai dan terlalu mengagumi manusia melebihi penciptanya.
Keputusan Umar sebagai pemimpin ini dianggap menjadi keputusan yang bijak. Al Aluusi Rahimahullah dalam Tafsir Al Aluusi (9/280) berkata : "Seorang pemimpin boleh mengambil keputusan berupa pengasingan demi kemaslahatan yang ia pandang lebih baik, sebagaimana Umar bin Al Khaththab Radliyallahu Ta’ala Anhu telah mengambil keputusan yang benar dengan mengasingkan Nasher bin Al Hajjaj ke kota Bashrah karena ketampanannya yang menimbulkan fitnah disebagaian kalangan wanita di Madinah".
