Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Profil

Kisah Poncke Princen, Pembelot Belanda yang Membela Indonesia hingga Jadi Mualaf dan Aktivis HAM

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

26 - Feb - 2023, 01:43

Placeholder
Poncke Princen, pembelot Belanda yang membela Indonesia hingga merdeka, mualaf dan menjadi aktivis HAM (foto: @wilandaprincen)

JATIMTIMES - Seorang wanita pemilik akun TikTok @wilandaprincen membagikan kisah ayahnya bernama Poncke Princen. Princen sendiri dikenal sebagai sosok tentara Belanda yang membelot dari negaranya dan memihak perjuangan rakyat Indonesia untuk merdeka. 

Mengutip laman Brabants Erfgoed, lelaki bernama lengkap Johannes Cornelis Princen ini lahir di Den Haag pada 21 November 1925. Latar belakang pendidikannya banyak menempuh sekolah agama. Karena Princen dibesarkan dalam keluarga liberal pemeluk Katolik, bahkan Dia bercita-cita menjadi pastor. 

Baca Juga : Permasalahan dalam Proses Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah

Dia menempuh pendidikan di seminari pada 1939-1943. Namun Princen tak pernah menyelesaikan studinya untuk menjadi pastor. Sebab Dia merasa sulit menghilangkan hasratnya terhadap perempuan. 

Kehidupan mudanya digambarkan sebagai sosok pemuja kebebasan. Namun secara ideologi Princen tertarik pada sosialisme.

Saat perang dunia II, Princen berkeinginan gabung dengan tentara Sekutu dan pergi ke Inggris pada tahun 1943. Namun dia tertangkap tentara Nazi Jerman yang telah menduduki Belanda.

Princen pun dipenjara di lokasi yang berpindah-pindah dari Vaught, Utrecht, Amersfoort, dan akhirnya di Bocholt, Jerman. Di dalam penjara itulah Princen mendapat julukan Poncke. 

Julukan tersebut diambil dari roman berjudul Leven en daden van Pastoor Poncke van Damme in Vlaanderen Pastoor Poncke (1941) karya Jan Eekhout (1900-1978). Julukan itu diberikan Princen lantaran Dia kerap membacakan kisah roman itu kepada tahanan lain.

Usai perang berakhir, pada Mei 1945 Princen pun dibebaskan tentara sekutu dari penjara. Masih beberapa bulan menghirup udara bebas, pada Desember 1945 Princen mendapat panggilan wajib militer dari Kerajaan Belanda ke Indonesia. 

Princen malah menolak panggilan militer itu dan kabur ke Prancis. Tapi dia kembali tertangkap lalu dikirim ke kamp di Schoonhoven, tempat para penolak 'wajib militer' ditampung.

Lalu di kamp inilah, Princen bertemu dengan komunis bernama Piet van Staveren. Sebagai komunis, Piet van Staveren menolak tegas kembalinya Belanda yang ingin menguasai Indonesia.

Sikap Piet van Staveren itu sejalan dengan prinsip Pricen yang memang ingin memperjuangkan kebebasan. Lantas, komunikasi antara Piet van Staveren tersebut berpengaruh besar pada sikap dan aktivitas Princen.

Kemudian, datanglah momen saat Princen dan tahanan penolak wajib militer lainnya dikirim ke Indonesia, pada Desember 1946. 

Sesampainya di Indonesia, Princen dijatuhi vonis 12 tahun penjara karena menolak wajib militer Kerajaan Belanda, pada 22 Oktober 1947. Namun vonis itu berubah menjadi 4 bulan penjara tanpa syarat. 

Princen pun ditahan di Cipinang lalu berpindah di Cisarua. Di kamp tahanan itulah Princen mendengar kabar Piet van Staveren berhasil kabur dari tahanan Belanda dan bisa gabung dengan tentara Indonesia.

Empat bulan berlalu telah dilewati Princen di tahanan. Lalu Dia kembali berdinas sebagai tentara Belanda. Dari sinilah, Princen mulai meyakinkan prinsipnya untuk tidak mendukung Belanda menjajah Indonesia. Apalagi setelah Princen melihat kekejaman yang dilakukan Belanda kepada rakyat Indonesia. 

Lantas Dia mencari akal untuk kabur. Akhirnya Princen pergi ke Sukabumi dan berhasil menyebrang garis batas wilayah kependudukan Belanda. Dia bahkan berhasil masuk ke Yogyakarta melalui Semarang. 

Baca Juga : Ketika Hari Kehancuran Tiba, Bumi dan Seluruh Alam Hancur Melayang-layang

Saat itu, Yogyakarta adalah ibu kota sekaligus pusat politik dan militer Indonesia yang tengah berjuang mempertahankan kemerdekaan. Awalnya Princen ditangkap oleh militer Indonesia dan dijadikan tawanan. Namun usai Agresi Militer II Belanda pada 1948, Dia dibebaskan sebagai tawanan. 

Saat tentara Belanda menyerang Yogyakarta, Princen sudah membela Indonesia dengan masuk ke Divisi Siliwangi, dibawah komando Kemal Idris. 

Saat mulai masuk ke divisi Siliwangi, Princen jatuh cinta dengan penduduk Indonesia, bernama Odah lalu menikahinya. 

Lantas Kemal Idris pun menunjuk Princen sebagai komandan Pasukan Istimewa, yang bertugas melakukan penyergapan dan pengeboman terhadap pasukan Belanda. Tujuannya adalah merebut persenjataan.

Karena kerap membela Indonesia, keberadaan Princen diketahui oleh militer Belanda. Pasukan Belanda pun ditugaskan untuk membunuh Princen. Namun Princen berhasil melarikan diri, namun istrinya yang tengah mengandung 2 bulan terbunuh. 

Setelah Agresi Militer II tersebut, sejarah telah mencatat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Princen bahkan memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan menjadi mualaf.

Dia bahkan ingin menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sepenuhnya dengan menjadi muslim. Tak lama kemudian, Princen menunaikan ibadah haji. 

Berbagai penghargaan sebagai tokoh pahlawan pun diberikan kepada Princen. Dia bahkan bersikap kritis terhadap pemerintahan Soekarno saat itu. Hingga pada 1966, Princen aktif di lembaga Hak Asasi Manusia (HAM). 

Sejak saat itu, Princen dikenal menyuarakan HAM. Dia kerap keluar masuk bui karena dinilai mengkritisi pemerintah. Baik zaman pemerintahan Soekarno maupun Soeharto. 

Lantaran aktivitas politiknya itu, kehidupan rumah tangga Princen berantakan. Princen bercerai dengan Heda, istri keduanya. Lalu, dia menikah dengan perempuan Belanda, Janneke Marckmann. 

Tetapi, istri ketiganya itu memutuskan kembali ke Belanda dan meninggalkan tiga anak mereka di Indonesia. Pada Februari 2002, Princen meninggal dunia pada usia 76 tahun di Jakarta, dan dimakamkan di pemakaman Pondok Kelapa.


Topik

Profil Poncke Princen pembelot



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya