Prabowo Minta Masyarakat Hemat BBM di Tengah Perang Iran vs AS–Israel, Pemerintah Waspadai Dampak Harga Minyak
Reporter
Mutmainah J
Editor
A Yahya
13 - Mar - 2026, 07:35
JATIMTIMES - Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Permintaan tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Merah Putih yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026). Ia menilai langkah penghematan perlu dipertimbangkan sejak dini agar Indonesia lebih siap menghadapi kemungkinan dampak dari konflik di kawasan Timur Tengah. “Saya kira bisa kita kaji masalah ini. Kita harus melakukan upaya penghematan,” kata Prabowo dalam rapat tersebut.
Baca Juga : Khusnul Khuluk DPRD Jatim Desak Pengawasan Ketat Harga Beras di Pasar Jelang Lebaran
Presiden menekankan bahwa Indonesia tidak boleh lengah terhadap perkembangan situasi global, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan energi dunia. “Kita berharap skenario terburuk tidak terjadi di Timur Tengah,” ujarnya.
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Energi
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah pecahnya perang antara Iran dan aliansi Amerika Serikat serta Israel. Konflik ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama karena jalur distribusi minyak strategis ikut terdampak.
Salah satu titik penting adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan pasar minyak dunia. Jalur ini dilaporkan ditutup oleh Iran setelah serangan militer Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu.
Penutupan Selat Hormuz membuat pasar energi global bergejolak. Harga minyak mentah dunia langsung melonjak tajam.
Pada Senin (9/3/2026), harga minyak acuan global jenis Brent Crude Oil sempat menyentuh US$119,50 per barel, level tertinggi sejak pertengahan tahun 2022. Harga tersebut kemudian sedikit turun setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik dengan Iran berpotensi segera mereda.
Meski demikian, situasi global masih dinilai belum stabil dan berpotensi memicu gejolak harga energi.
Negara Lain Mulai Ambil Langkah Penghematan
Sejumlah negara telah mengambil langkah untuk mengantisipasi dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah, terutama terkait lonjakan harga energi.
Salah satunya adalah Filipina yang mulai menerapkan kebijakan penghematan energi. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. atau yang dikenal sebagai Bongbong Marcos mengumumkan kebijakan empat hari kerja dalam seminggu bagi pegawai pemerintah.
Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi konsumsi energi sekaligus menekan dampak ekonomi yang mungkin timbul akibat konflik global.
Baca Juga : Pastikan Motor Honda Siap Mudik dengan Manfaatkan Paket Servis Ramadan di AHASS
“Kita adalah korban dari perang yang bukan kita inginkan. Namun kita tetap bisa melindungi rakyat kita,” kata Marcos dalam pernyataan resminya.
Aturan empat hari kerja mulai diterapkan pada Senin (9/3/2026) untuk kantor-kantor pemerintahan. Meski begitu, kebijakan ini tidak berlaku bagi sektor layanan publik seperti polisi, pemadam kebakaran, serta layanan darurat lainnya.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia.
Iran sebelumnya menyatakan akan menyerang kapal apa pun yang melintas di selat tersebut, kecuali kapal yang berasal dari China dan Rusia. Kebijakan ini semakin meningkatkan ketegangan geopolitik sekaligus memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Situasi ini membuat banyak negara mulai mempersiapkan langkah antisipasi, termasuk dengan menghemat konsumsi energi.
Bagi Indonesia, imbauan penghematan BBM yang disampaikan Presiden Prabowo menjadi salah satu upaya awal untuk menghadapi kemungkinan dampak ekonomi dari konflik internasional yang masih terus berkembang.
