JATIMTIMES - Berbicara tentang gangguan kesehatan pada remaja hingga orang dewasa, salah satu yang sering dialami adalah gusi bengkak. Gusi bengkak dapat kambuh disebabkan oleh penumpukan plak yang menyebabkan karang gigi, infeksi mikroba (bakteri, jamur, atau virus), kebiasaan menyikat gigi terlalu keras, hingga kekurangan vitamin C. Apabila tidak segera diobati, gusi bengkak dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Prevalensi gusi bengkak hingga abses gigi di Indonesia cukup tinggi, berkisar 14%.
PAFI dengan alamat website https://pafisalatigakota.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi melalui penelitian dan inovasi. Dengan dukungan organisasi, ahli farmasi dapat berkontribusi dalam pengembangan obat, pelayanan farmasi, serta teknologi kesehatan yang dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.
Baca Juga : Kenali Penyebab Panas Dalam pada Anak, PAFI Berikan Solusi Pengobatan
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab gusi bengkak pada orang dewasa, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Apa saja faktor penyebab terjadinya gusi bengkak pada orang dewasa?
Pada umumnya, gusi bengkak pada orang dewasa adalah salah satu tanda awal gangguan kesehatan mulut, khususnya yang berkaitan dengan penyakit periodontal (penyakit jaringan penyangga gigi). Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius dan menyebabkan kerusakan permanen pada gigi dan jaringan sekitarnya. Gusi bengkak dapat disertai dengan kemerahan, rasa nyeri, dan terkadang pendarahan. Berikut adalah beberapa faktor penyebab utama terjadinya gusi bengkak pada orang dewasa yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Adanya penumpukan plak dan karang gigi
Plak adalah lapisan lengket yang terdiri dari bakteri, sisa makanan, dan lendir yang menempel pada permukaan gigi dan gusi. Jika tidak dibersihkan secara rutin melalui menyikat gigi dan menggunakan benang gigi, plak akan mengeras menjadi karang gigi (tartar). Karang gigi ini sangat sulit dihilangkan dengan sikat gigi biasa dan menjadi sumber iritasi bagi jaringan gusi. Bakteri dalam plak dan karang gigi menghasilkan racun yang menyebabkan peradangan pada gusi, yang dikenal sebagai gingivitis. Gingivitis adalah tahap awal penyakit gusi yang ditandai dengan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah.
2. Sisa makanan yang tersangkut
Faktor selanjutnya yang banyak menyebabkan gusi bengkak pada orang dewasa adalah adanya sisa makanan yang tersangkut. Makanan yang terselip di antara gigi dan gusi, terutama makanan keras atau berserat, dapat menyebabkan iritasi lokal. Jika tidak segera dibersihkan, sisa makanan ini menjadi tempat berkembang biaknya bakteri yang memicu peradangan dan pembengkakan gusi.
3. Perubahan hormon
Perubahan kadar hormon dalam tubuh dapat mempengaruhi kondisi gusi, terutama pada wanita. Contohnya pada ibu hamil. Gingivitis dapat terjadi karena selama kehamilan terjadi peningkatan hormon progesteron dan estrogen yang meningkatkan aliran darah ke gusi, membuat gusi lebih sensitif dan mudah bengkak. Selain itu, menstruasi dan menopause juga dapat memicu peradangan dan pembengkakan gusi.
4. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Merokok adalah faktor risiko utama penyakit gusi karena dapat mengurangi aliran darah ke jaringan gusi, sehingga memperlambat proses penyembuhan. Kemudian menurunkan kemampuan sistem imun untuk melawan infeksi serta meningkatkan akumulasi plak dan karang gigi. Konsumsi alkohol berlebihan juga dapat mengiritasi jaringan mulut dan memperburuk kondisi gusi.
5. Trauma dan iritasi mekanik
Menyikat gigi dengan teknik yang salah atau menggunakan sikat gigi berbulu keras dapat melukai jaringan gusi dan menyebabkan pembengkakan. Penggunaan tusuk gigi secara kasar, kebiasaan menggigit benda keras, atau pemasangan kawat gigi yang tidak tepat juga dapat menyebabkan iritasi dan peradangan gusi.
6. Reaksi alergi atau sensitivitas
Faktor terakhir yang menyebabkan gusi bengkak pada orang dewasa adalah reaksi alergi. Beberapa orang mungkin mengalami reaksi alergi atau sensitivitas terhadap bahan dalam produk perawatan mulut seperti pasta gigi, obat kumur, atau makanan tertentu. Reaksi ini dapat menyebabkan gusi menjadi merah, bengkak, dan nyeri.
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati gusi bengkak pada orang dewasa?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari gusi bengkak pada orang dewasa. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala gusi bengkak pada orang dewasa serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
1. Parasetamol
Parasetamol seperti sanmol merupakan obat analgesik yang aman dan efektif untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang. Parasetamol tidak memiliki efek antiinflamasi, sehingga sering dikombinasikan dengan OAINS untuk mengatasi gusi bengkak yang disertai peradangan. Dosis yang umum yang diberikan apoteker adalah 500 mg setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan, tidak melebihi dosis maksimum harian.
2. Ibuprofen
Ibuprofen adalah obat golongan OAINS yang tersedia dalam berbagai merek dan dosis, seperti proris triple action (200 mg). Ibuprofen efektif mengurangi peradangan, nyeri, dan pembengkakan. Dosis yang umum adalah 1-2 tablet setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan, tidak melebihi dosis maksimum harian sesuai petunjuk penggunaan dari apoteker.
3. Asam mefenamat
Ponstan mengandung asam mefenamat yang termasuk obat golongan OAINS (obat anti inflamasi nonsteroid) yang bekerja dengan mekanisme serupa untuk mengurangi nyeri dan peradangan. Dosis yang umum adalah 500 mg sebagai dosis awal, diikuti dengan 250 mg setiap 6 jam sesuai kebutuhan. Penggunaan asam mefenamat memerlukan resep apoteker karena memiliki efek samping yang lebih serius.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengobati gejala gusi bengkak pada orang dewasa adalah berkumur dengan air garam hangat, mengompres dingin pada area gusi yang bengkak, atau menggunakan gel lidah buaya untuk mengurangi peradangan. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.
Dapatkan informasi kesehatan serta layanan farmasi gratis dengan mengunjungi pafisalatigakota.org melalui smartphone Anda.
