JATIMTIMES - Belakangan ini, konten mengenai gunung-gunung yang tidak dibuka untuk aktivitas pendakian ramai menjadi perhatian di media sosial. Salah satunya dibagikan oleh ahli botani Heri Santoso melalui akun TikTok pribadinya.
Berdasarkan pengalaman eksplorasinya, Heri membagikan daftar empat gunung yang menurutnya sebaiknya tidak didaki karena berstatus kawasan konservasi dengan ekosistem yang sangat sensitif.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Kamis Kliwon 6 Agustus 2026: Hari Baik Berdagang
Dalam unggahannya, Heri menjelaskan bahwa seluruh gunung tersebut bukan destinasi wisata pendakian. Akses ke kawasan hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian dengan izin resmi serta pendampingan petugas.
Meski pernah melakukan eksplorasi ilmiah di lokasi-lokasi tersebut, ia justru mengimbau masyarakat untuk tidak mencoba mendakinya.
Berikut empat gunung yang masuk dalam daftar tersebut.
1. Gunung Anjasmoro, Rating 3/10
Posisi pertama ditempati Gunung Anjasmoro yang dikelola UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Menurut Heri, pegunungan ini memiliki kontur yang sangat terjal sehingga cukup menantang untuk dijelajahi.
"Pegunungan ini memiliki kontur yang super terjal dan mengerikan. Sister mount gunung ini adalah Gunung Wilis. Mendaki Gunung Anjasmoro rasanya mirip mendaki Gunung Wilis," katanya.
Meski pernah dijelajahi untuk kepentingan penelitian, kawasan ini bukan jalur pendakian wisata sehingga masyarakat tidak diperkenankan mendaki tanpa izin khusus.
2. Gunung Baluran, Rating 2/10
Selanjutnya ada Gunung Baluran, yang berada di zona inti Taman Nasional Baluran. Heri mengingatkan bahwa kawasan ini sangat berbahaya bagi pendaki karena tidak memiliki jalur pendakian yang jelas.
"Tidak ada jalur yang jelas, gunung ini dikepung oleh hutan gugur di lerengnya yang akan menyebabkan siapa pun nekat masuk akan tersesat. Selain itu, (gunung ini) menjadi habitat bagi 50 macan tutul. Cukup nikmati keindahannya dari Savana Baluran saja," jelasnya.
Selain berisiko tersesat, kawasan inti taman nasional memang ditetapkan sebagai area perlindungan satwa liar sehingga aksesnya dibatasi.
3. Gunung Sigogor, Rating 1/10
Gunung berikutnya adalah Gunung Sigogor yang berada di kawasan Cagar Alam Sigogor-Picis di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.
Menurut Heri, gunung ini merupakan habitat berbagai tumbuhan endemik yang langka sehingga kelestariannya harus dijaga.
"Gunung Sigogor merupakan rumah bagi jenis-jenis tumbuhan endemik langka khas Jawa Tengah-Timuran. Vibes hutannya sangat wingit. Kamu bisa merasakan sensasi yang sama dengan mendaki Gunung Lawu via BC Tambak," ungkapnya.
Baca Juga : Pejabat Dinas Peternakan Jatim Raih Peserta Terbaik PKP 2026
Karena berstatus cagar alam, aktivitas wisata maupun pendakian umum tidak diperbolehkan di kawasan tersebut.
4. Gunung Lumut, Rating 0/10
Gunung yang mendapat nilai paling rendah adalah Gunung Lumut di Pulau Bawean, yang termasuk kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean dan dikelola Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Menurut Heri, puncak Gunung Lumut memiliki ekosistem hutan lumut yang sangat langka karena tumbuh di dataran dengan ketinggian relatif rendah.
"Puncaknya diselimuti oleh hutan lumut. Ekosistem ini sangat langka di dunia karena berada pada ketinggian rendah sehingga harus terhindar dari gangguan. Banyak gunung berhiaskan hutan lumut, seperti Gunung Buthak, nah, mending ke sana saja," ujarnya.
Karena memiliki nilai konservasi tinggi, Heri memberikan rating 0/10 dan menyarankan masyarakat tidak mencoba mendaki gunung tersebut.
Keempat gunung tersebut merupakan kawasan konservasi yang memiliki fungsi penting sebagai habitat flora dan fauna serta pelindung ekosistem alami. Oleh karena itu, kawasan tersebut tidak dibuka sebagai destinasi pendakian wisata.
Akses ke lokasi hanya dapat dilakukan untuk kepentingan tertentu, seperti penelitian ilmiah, dengan izin resmi dari pengelola kawasan dan pendampingan petugas.
Heri pun mengajak masyarakat untuk tetap menghormati aturan konservasi dan menikmati keindahan alam dari kawasan yang memang telah disediakan untuk wisata. Menurutnya, masih banyak gunung lain yang legal didaki dan menawarkan panorama tak kalah indah tanpa harus mengganggu kawasan konservasi yang dilindungi.
"Gunung-gunung tadi tidak dibuka untuk umum. Akses ke kawasan hanya untuk izin penelitian dengan pengawalan penuh," pungkas Heri.
