JATIMTIMES - Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan memastikan persediaan pupuk untuk budidaya ikan bagi para petani tambak di wilayah setempat masih aman.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan Yuli Wahyuono menyusul adanya keluhan sejumlah petani tambak di Kecamatan Glagah yang mengaku rugi lantaran hasil panen ikan kurang maksimal karena salah satunya disebabkan sulitnya pasokan pupuk.
Baca Juga : Warga Sesalkan Pengembalian Laporan Dugaan Pungli PTSL Desa Sugihwaras Lamongan
"Hingga saat ini persedian pupuk masih aman dan masih bisa memenuhi kebutuhan petani tambak," kata Yuli, Sabtu (11/04/2026).
Memang kendalanya, menurut Yuli, saat ini kondisi air tambak masih meluber akibat banjir. Sehingga para petani takut untuk menyebarkan pupu lk dan menyebabkan ukuran ikan tidak bisa maksimal. "Namun pada intinya, pasokan pupuk untuk petambak di Lamongan masih terpenuhi," lanjutnya.
Sebelumnya, petani tambak di wilayah Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan mengeluh lantaran hasil panen budidaya ikan pada tahun ini merosot tajam dan menyisakan kerugian besar. Hal itu dikarenakan usai menghadapi banjir dan sulitnya mendapatkan pasokan pupuk.
"Hasilnya njombrot ikannya loh segini-segini karena kurang pupuk. Karena banjir juga, jadi petani yang kebanjiran itu hasilnya rugi benar, rugi betul," keluh salah seorang petani tambak, Nur Qomariyah, sembari menunjukkan hasil ikan tangkapannya yang berukuran kecil dan jauh dari standart normal usia panen, Jumat (10/4/2026).
Nur menilai pemerintah lebih memprioritaskan alokasi pupuk untuk sektor tanaman pangan (padi), sementara sektor tambak ikan seolah dikesampingkan. Tanpa asupan pupuk yang cukup pada tanah tambak, pakan alami tidak dapat tumbuh maksimal, yang berujung pada terhambatnya pertumbuhan ikan.
Baca Juga : Cek Distribusi Gas Melon, Ini Yang Ditemukan Polres Situbondo
"Pupuknya kekurangan, hanya dikasih sedikit. Kalau untuk padi insyaallah cukup, tapi kalau ikan kurang pupuk ya hasilnya kecil-kecil sekali," tambahnya.
Banjir yang merendam lahan tambak selama hampir empat bulan berturut - turut telah mengacaukan siklus tanam dan panen. Kerugian yang dialami petani tembak hingga 90 persen .
"Rugi banyak, nggak bisa dihitung. Ya sekitar 80 sampai 90 persen ruginya. Kita nggak tahu lagi labanya berapa, hampir tidak ada," kata Nur dengan nada lesu.
