JATIMTIMES - Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan pentingnya penguatan karakter generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi. Hal ini disampaikan saat membuka Festival Anak Muslim yang dirangkai dengan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Kamis (12/3/2026) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang.
Ajang yang diikuti siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) se-Kota Malang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang untuk menguji seberapa jauh nilai pendidikan, adab, dan keagamaan benar-benar tertanam dalam diri anak-anak.
Baca Juga : Lebaran Enaknya Liburan ke Mana? Ini Rekomendasi Destinasi Wisata yang Bisa Dikunjungi
Kekhawatiran terhadap memudarnya nilai-nilai tradisi dan etika di kalangan generasi muda menjadi sorotan dalam pembukaan Festival Anak Muslim di Kota Malang. Menurut Wahyu, perkembangan zaman yang semakin terbuka membuat anak-anak sangat mudah terpapar berbagai pengaruh global yang tidak selalu selaras dengan nilai budaya dan agama.

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi mengikis tradisi yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat, termasuk nilai-nilai budaya Jawa yang menjunjung tinggi sikap hormat kepada orang tua dan kepada orang yang lebih tua.
“Anak-anak sekarang menghadapi situasi yang sangat terbuka tanpa batas. Pengaruh global bisa saja menggerus tradisi kita. Karena itu, kegiatan seperti Festival Anak Muslim menjadi penting agar anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami dan mempraktikkan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pendidikan karakter, menurut dia, tidak cukup hanya diberikan di ruang kelas. Nilai-nilai tersebut justru lebih banyak diuji dalam kehidupan sehari-hari di luar lingkungan sekolah. Karena itu, festival seperti ini menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan bagaimana pembelajaran agama dan karakter yang mereka terima di sekolah dapat diimplementasikan secara nyata.
Dalam festival tersebut, berbagai kemampuan anak ditampilkan, mulai dari hafalan Al-Qur’an, musabaqah tilawatil Qur’an (MTQ), hingga tausiyah yang dibawakan oleh dai cilik. Wahyu mengaku terkesan melihat keberanian siswa SD yang mampu menyampaikan ceramah di hadapan banyak orang.
Menurut dia, kelugasan anak-anak justru membuat pesan keagamaan lebih mudah diterima oleh teman-teman seusianya. “Anak-anak SD ternyata sudah mampu menyampaikan tausiyah dengan baik. Ini luar biasa. Kelugasan mereka justru menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan kebaikan kepada teman-temannya,” katanya.
Wahyu juga mengapresiasi dukungan penerbit Erlangga yang selama dua tahun terakhir menjadi mitra dalam penyelenggaraan festival tersebut. Ia menyebut seluruh kegiatan Festival Anak Muslim difasilitasi oleh pihak penerbit sehingga memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini mereka pelajari.
“Kami dari Pemerintah Kota Malang sangat mengapresiasi dukungan dari Erlangga yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Festival ini memberi ruang bagi anak-anak untuk menampilkan apa yang selama ini mereka pelajari di sekolah,” ujarnya.
Menurut Wahyu, penguatan karakter sejak dini menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi menuju visi Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang saat ini duduk di bangku SD dan SMP dipandang sebagai generasi yang akan menentukan arah masa depan bangsa.
“Target Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki adab dan etika yang kuat. Pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana menjelaskan bahwa Festival Anak Muslim digelar bersamaan dengan rangkaian kegiatan FLS3N dan O2SN.
Baca Juga : Cara Membuat Stiker atau Twibbon Lebaran 2026 di ChatGPT, Cocok Dibagikan untuk Jelang Hari Raya
Menurut dia, Festival Anak Muslim sengaja digelar lebih dahulu karena bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan. Suasana Ramadan dinilai menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat pendidikan karakter dan nilai religius bagi para siswa.
“Festival Anak Muslim kami dahulukan karena bertepatan dengan Ramadan. Momentum ini sangat tepat untuk memperkuat pembelajaran agama sekaligus menguji kreativitas anak-anak,” jelas Suwarjana.
Dalam festival tersebut terdapat enam cabang lomba yang diikuti sekitar 100 hingga 150 siswa dari lima kecamatan di Kota Malang. Para peserta berasal dari SD dan SMP, baik sekolah negeri maupun swasta.
Seleksi dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat kota. Beberapa cabang lomba bahkan akan melanjutkan kompetisi hingga tingkat provinsi di Surabaya.
Menurut Suwarjana, kegiatan ini tidak hanya bertujuan mencari juara, tetapi juga menjadi sarana untuk mengukur hasil pembinaan yang selama ini dilakukan di sekolah.
“Melalui lomba ini kita bisa melihat sejauh mana kreativitas dan kemampuan anak-anak yang selama ini mereka latih. Ini juga menjadi evaluasi bagi sekolah,” pungkasnya.
