Helikopter Water Bombing Tangani Kebakaran Hutan Bromo
Reporter
Ashaq Lupito
Editor
Yunan Helmy
07 - Aug - 2026, 04:55
JATIMTIMES - Helikopter water bombing telah disiagakan di lokasi kejadian pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, pada Jumat 7 Agustus 2026. Operasional helikopter water bombing tersebut digunakan untuk memadamkan api khususnya di kawasan yang sulit dijangkau oleh personel pemadaman darat.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Sadono Irawan mengatakan, dua unit helikopter telah landing di Ranu Pani. Pada skema awal, satu unit helikopter telah dalam persiapan pemasang bucket atau wadah khusus pengangkut air untuk keperluan water bombing pada Jumat 7 Agustus 2026 pagi.
Baca Juga : Korsleting Listrik Hanguskan 3 Rumah di Jombang
"Hari ini sudah siap, nanti akan ada update. Laporan akan kami share stelah kegiatan hari ini berlangsung," ujarnya.
Ditemui secara terpisah, Kasihumas Polres Malang AKP M. Budiono memgungkapkan, karhutla yang terjadi di kawasan TNBTS tersebut mulai merembet ke wilayah Kabupaten Malang. Petugas gabungan kemudian dikerahkan untuk melakukan penanganan setelah kobaran api mencapai kawasan Jemplang, Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
"Api mulai terpantau memasuki wilayah Kabupaten Malang pada Rabu (5 Agustus 2026) dini hari," ujar Budiono, Jumat 7 Agustus 2026.
Dijelaskan Budiono, kobaran api dari kawasan Watu Gede atau Kedung Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, tersebut merembet ke arah Jemplang akibat kondisi angin yang cukup kencang.
"Api terpantau bergerak menuju wilayah Jemplang akibat embusan angin yang cukup kuat. Petugas gabungan kemudian langsung melakukan upaya penanganan agar api tidak semakin meluas," ujarnya.
Pada pemadaman yang hingga kini masih berlangsung tersebut, Polres Malang bersama unsur terkait juga turut melakukan pengamanan serta membantu upaya penanggulangan bersama petugas TNBTS, BPBD, TNI, para relawan hingga masyarakat di kawasan sekitar.
"Pemadaman dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari penyemprotan air menggunakan hydran portable, sprayer elektrik, hingga pemadaman manual dengan cara memukul semak dan memotong bagian pohon yang masih mengeluarkan bara maupun asap," bebernya.
Hingga Jumat 7 Agustus 2026, personel Polsek Poncokusumo bersama unsur gabungan juga masih terus melakukan pemantauan serta membantu proses pemadaman di lokasi. "Prioritas utama kami adalah mencegah penyebaran api serta memastikan keselamatan petugas maupun masyarakat sekitar yang ada di kawasan terdampak," imbuhnya.
Sebelumnya, menurut Budiono, pada Rabu 5 Agustus 2026 sekitar pukul 17.40 WIB, kobaran api di kawasan Blok Watu Gede, Jemplang, Desa Ngadas, telah berhasil dikendalikan dan dipadamkan. Namun, petugas masih menemukan sejumlah titik asap maupun sisa bara api yang masih membutuhkan pemantauan dan penanganan.
"Meski api sudah berhasil dikendalikan, petugas tetap bersiaga karena kondisi cuaca, angin, serta medan kawasan hutan yang cukup berat dapat berpotensi menyebabkan kembali munculnya titik api," ucapnya.
Selain melakukan pemadaman, hingga saat ini petugas gabungan juga masih melakukan langkah antisipasi dengan tetap menyiagakan sejumlah personel dan kendaraan pendukung di Pos Jemplang. "Langkah ini dilakukan untuk merespons apabila kembali ditemukan adanya bara api maupun pergerakan kebakaran," ujarnya.
Baca Juga : 5 Yayasan Pengelola Dapur MBG Terbanyak, Nomor 1 Punya Lebih dari 1000 SPPG
Polres Malang turut mengimbau kepada masyarakat maupun wisatawan untuk mematuhi pembatasan akses menuju kawasan terdampak. Imbauan ditujukan demi menjaga keselamatan bersama serta mendukung proses penanganan karhutla.
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati lokasi kebakaran dan mengikuti arahan petugas di lapangan. Penanganan ini membutuhkan kerja sama seluruh pihak agar kebakaran dapat segera teratasi," pungkas Budiono.
Sebagaimana diberitakan, titik api mulai terpantau di kawasan kaldera Bromo pada Senin 3 Agustus 2026. Titik api pada saat itu terpantau pertama pada kawasan Bantengan atau Bukit Jantur di wilayah administratif Kabupaten Probolinggo.
Kebakaran hutan di kawasan TNBTS tersebut terus meluas dan bahkan hingga ke wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Berdasarkan laporan terbaru yang disampaikan BPBD Kabupaten Malang, diperkirakan total luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai 80 hektare.
Namun perlu diketahui, luas lahan yang terdampak kebakaran tersebut masih diperkirakan bisa bertambah. Itu mengingat cuaca di wilayah Bromo pada saat ini terpantau berawan dengan kecepatan angin sedang. Sementara untuk jenis vegetasi yang terdampak kebakaran hutan tersebut di antaranya berupa cemara gunung, mentigen, akasia hingga semak belukar.
Pihak Balai Besar TNBTS juga telah melakukan penutupan sementara pada pintu masuk kawasan wisata Bromo hingga batas waktu yang belum ditentukan selama penanganan kebakaran berlangsung. Penutupan sejumlah pintu masuk ke kawasan wisata Bromo tersebut juga termasuk yang ada pada Pos Jemplang, Desa Ngadas.
Sedikitnya ada ratusan personel gabungan dari berbagai unsur yang terdata dan bergabung dalam operasi penanganan darurat kebakaran hutan pada kawasan Gunung Bromo tersebut. Penanganan darurat bencana karhutla di wilayah TNBTS tersebut juga turut dimonitor langsung oleh kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ratusan personel gabungan yang terlibat dalam upaya penanganan kebakaran itulah yang telah dikerahkan untuk melakukan pemadaman dengan beragam metode. Salah satunya ialah dengan menggunakan helikopter water bombing yang berlangsung pada hari ini, Jumat 7 Agustus 2026.
