Warga RW 12 Griya Shanta Bentuk Forum, Buka Ruang Dialog soal Polemik Jalan Tembus

Reporter

Riski Wijaya

Editor

Yunan Helmy

20 - Feb - 2026, 08:30

Sebagian warga dan pengurus RW 12 Griya Shanta yang bersepakat membentuk forum untuk membuka ruang dialog.(Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Ketegangan terkait polemik tembok pembatas RW 9 dan RW 12 Perumahan Griya Shanta, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, belum juga mereda. Di tengah polemik yang masih berlangsung, sejumlah warga membentuk Forum Diskusi dan Komunikasi sebagai langkah alternatif mencari solusi.

Koordinator Forum Diskusi dan Komunikasi Warga RW 12 Irawan Agus Satrijo mengatakan forum tersebut dibentuk bukan dimaksudkan sebagai forum tandingan, namun sebagai upaya menghadirkan jalan tengah di tengah proses yang dinilai belum membuahkan hasil signifikan. Terutama untuk membuka ruang dialog untuk informasi yang lebih transparan. 

Baca Juga : Topo Mbisu Mubeng Deso Awali Bersih Desa 1.078 Tahun Tlogomas

“Ini untuk memberikan solusi alternatif kepada warga atas permasalahan tembok barat itu. Karena selama ini, kalau kita melihat semua yang sudah ditempuh oleh Pak RW, baik melalui kepolisian maupun di pengadilan, kami belum begitu melihat ada hasil,” ujar Irawan.

Menurut dia, forum dibentuk bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan membuka ruang diskusi dan komunikasi yang lebih luas, termasuk dengan Pemerintah Kota Malang maupun seluruh entitas yang memiliki kepentingan atas hal tersebut. 

“Kalau memang sekiranya kita bisa berdiskusi dan komunikasi dengan baik, baik dengan pemkot atau pihak lain, itu akan kita lakukan. Harapannya warga lain bisa bergabung dengan kami,” tambahnya.

Irawan menegaskan, solusi atas polemik tersebut nantinya akan dibahas bersama melalui forum. Ia meyakini, dialog menjadi kunci untuk menemukan titik temu.

“Solusi itu nanti akan didiskusikan. Dengan diskusi dan komunikasi, akhirnya akan ketemu solusinya. Kalau tidak ada diskusi dan komunikasi, yang terjadi ya seperti ini terus. Kita tidak akan menemukan solusi,” katanya.

Lebih lanjut, Irawan juga menyinggung soal tanda tangan penolakan jalan tembus yang sempat menjadi materi dalam proses hukum. Menurut dia, di lapangan tidak semua warga secara tegas menolak.

Baca Juga : Perwakilan MPM Honda Jatim Sabet Juara Nasional di Festival Vokasi Satu Hati 2026

“Tidak semua warga itu menolak. Ada yang tanda tangan karena ewuh-pekewuh, sungkan dengan tetangga. Warga di sini sudah lama bersama, ada ikatan emosional, apalagi yang sepuh-sepuh, dulu pernah sama-sama jadi pengurus RT atau RW,” ungkapnya.

Terkait pembangunan kembali tembok, Irawan menilai proses yang disebut sebagai hasil rembuk belum sepenuhnya melibatkan seluruh warga. "Kalau istilahnya dirembuk, iya. Tapi menurut kami belum menyertakan warga secara keseluruhan,” ucapnya.

Melalui forum tersebut, warga berharap polemik yang berlarut bisa diselesaikan dengan pendekatan musyawarah, sehingga tercipta lingkungan yang lebih kondusif dan harmonis di RW 12 Griya Shanta.